Kartini dan Emansipasi Wanita di Arab Saudi
![]() |
| Ilustrasi AI |
H. Budi Marta Saudin, Lc, M.A
Lajnah Fatwa Majelis Tarjih dan Tabligh PCIM Kerajaan Arab Saudi
21 April hari ini dikenang sebagai Hari Kartini. Kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang” selalu menggema dalam setiap pidato peringatan hari tersebut.
Kartini dikenal sebagai perempuan yang melampaui zamannya. Pada masa itu, ia telah menyuarakan emansipasi, kesetaraan gender, serta kebebasan dari belenggu tradisi yang mengekang perempuan.
Ia juga disebut-sebut sebagai sosok yang terpengaruh oleh gerakan Freemasonry dan Teosofi karena pemikirannya yang dinilai liberal.
Di Arab Saudi, upaya emansipasi perempuan telah lama dilakukan. Kaum perempuan tidak lagi dipandang sebagai makhluk kelas dua.
Pada 1959, Raja Saud bin Abdul Aziz mengeluarkan dekret pendirian Direktorat Jenderal Pendidikan Putri. Setahun kemudian, pada 1960, sekolah-sekolah di Saudi mulai menerima siswi baru.
Selanjutnya, kampus putri yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia, Princess Nourah University (PNU), didirikan di Saudi pada 1970.
Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, pada 9 Februari 2026 lalu menerima gelar doktor honoris causa dalam bidang perjuangan perempuan, peran dalam pemerintahan, dan kemanusiaan.
Ibu Megawati menjadi satu-satunya warga Indonesia, bahkan non-Arab pertama, yang memperoleh gelar kehormatan dari PNU.
Perempuan Saudi dan Visi 2030
Visi 2030 yang dijalankan Arab Saudi menempatkan perempuan pada posisi strategis. Perempuan kini diperbolehkan mengendarai mobil sendiri tanpa bergantung pada sopir. Perusahaan juga diwajibkan membuka kesempatan kerja bagi perempuan, dan setiap sektor usaha menyediakan porsi bagi tenaga kerja perempuan.
Di supermarket, pasar, dan swalayan seperti Al Othaim dan Bin Dawood, banyak kasir merupakan perempuan Saudi. Pemandangan ini belum lazim terlihat satu dekade lalu.
Jabatan strategis di pemerintahan pun mulai diisi oleh perempuan.
Putri Raja, Reema binti Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz Al Saud, menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat sejak 2019 hingga sekarang.
Pada level kota, dua tahun lalu Pemerintah Arab Saudi memberikan surat keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Jeddah kepada Ustazah Manal binti Mubarak Al Luhaibi.
Kesetaraan perempuan di Saudi, terutama dalam pendidikan, pekerjaan, dan hak-hak sebagai warga negara, terus menunjukkan perkembangan signifikan. Perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki.
Dahulu, perempuan Saudi sangat bergantung pada laki-laki untuk bepergian sehingga kebutuhan sopir, termasuk dari Indonesia, cukup tinggi. Kini, setelah mereka dapat mengendarai mobil sendiri, kebutuhan sopir dari luar negeri pun menurun.
Sebelumnya, perempuan yang bercerai atau ditinggal wafat suaminya kerap mengalami kesulitan ekonomi. Kini, mereka memiliki peluang lebih luas untuk bekerja dan mandiri secara finansial.
Pada masa lalu, jabatan penting dalam pemerintahan hanya dipegang laki-laki. Sekarang, perempuan memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk mendudukinya.
Aturan lain, seperti pelaksanaan haji tanpa mahram, kini lebih longgar. Demikian pula bagi perempuan asing yang ingin menempuh studi di Saudi, tidak lagi diwajibkan didampingi mahram.
Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan tujuan Visi 2030, yaitu menjadi warga negara yang mampu bersaing secara global.
Riyadh, 21 April 2026

Tidak ada komentar