Header Ads

Header ADS

Ninin Karlina: Tokoh Perempuan Progresif Persyarikatan dari Sukoharjo


Sukoharjo — Semangat Raden Ajeng Kartini tak pernah benar-benar usai. Ia hidup dalam denyut gerakan perempuan masa kini. Salah satunya tercermin dalam sosok Ninin Karlina, S.Ud., figur inspiratif Muhammadiyah ‘Aisyiyah Sukoharjo yang terus menghidupkan nilai-nilai emansipasi dalam wajah yang lebih kontekstual dan progresif.

Ninin pernah menerima penghargaan dari Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., sebagai apresiasi atas dedikasi kemanusiaan, perdamaian, dan pemberdayaan perempuan pada rangkaian momentum Hari Jadi ke-66 UMS lalu. Pengakuan ini bukan sekadar simbolis, melainkan refleksi dari perjalanan panjang aktivismenya di tingkat lokal hingga global.


Jejak Aktivisme dan Pengakuan Internasional

Ninin bukan hanya aktivis organisasi, tetapi juga aktor perubahan sosial. Kiprahnya menjangkau berbagai sektor, mulai dari isu keberagaman, gender, hingga penanganan bencana. Salah satu pencapaian pentingnya adalah saat ia terpilih sebagai penerima beasiswa International Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2021 dengan fokus Empowering Muslim Women as Peacemaker and Agent of Change di Amerika Serikat.

Pengalaman internasional tersebut memperkaya perspektifnya dalam membaca realitas global, sekaligus memperkuat komitmennya untuk menghadirkan Islam yang ramah, inklusif, dan berkemajuan di tingkat akar rumput (grassroot).

“Saya fokus di isu-isu perdamaian, kesetaraan, dan kemanusiaan, baik dalam lingkup persyarikatan Muhammadiyah, umat, maupun bangsa,” ujarnya saat dimintai keterangan, Senin (20/4).


Implementasi Ideologi di Tengah Masyarakat

Bagi Ninin, Muhammadiyah sebenarnya telah selesai secara ideologis dalam memandang keberagaman. Ia merujuk pada dokumen-dokumen resmi seperti Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah yang telah mengafirmasi pentingnya nilai toleransi dan kebinnekaan.

“Tantangannya bukan lagi pada wacana, tetapi bagaimana implementasinya di tengah masyarakat yang terus berubah,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Ninin melihat pentingnya pendekatan baru dalam dakwah yang tidak hanya normatif, tetapi juga adaptif terhadap dinamika generasi dan budaya.


Dakwah Kultural dan Transformasi Peran Perempuan

Alih-alih bertumpu pada pendekatan elitis, Ninin justru menyoroti kekuatan dakwah kultural di tingkat akar rumput. Menurutnya, praktik dakwah yang humanis dan membumi justru lebih efektif dilakukan oleh kader di ranting dan cabang.

Dari mimbar kecil hingga interaksi sosial sehari-hari, nilai-nilai Islam berkemajuan disampaikan dengan cara yang menyentuh sisi kemanusiaan, bukan sekadar retorika. Salah satu langkah progresif yang dilakukan Ninin adalah saat memimpin Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah (PDNA) Sukoharjo dengan mendobrak stigma domestikasi perempuan dalam organisasi.

Selama ini, perempuan sering kali diposisikan pada peran domestik, bahkan dalam ruang organisasi. Ninin menolak pola tersebut.

“Nasyiatul ‘Aisyiyah tidak hanya soal konsumsi. Kader kami harus tampil di panggung, menjadi pemimpin, intelektual, dan profesional,” tegasnya.


Inovasi Program dan Isu Kontemporer

Transformasi ini membuahkan hasil. Kader Nasyiatul ‘Aisyiyah di Sukoharjo kini tampil lebih percaya diri, aktif dalam berbagai bidang, dan mampu mengelola organisasi secara profesional. Di tahun kedua kepemimpinannya, Ninin mulai memperkenalkan isu-isu yang sebelumnya dianggap sensitif, seperti gender dan feminisme.

Melalui kolaborasi dengan akademisi dan tokoh perempuan, ia menghadirkan diskursus eco-feminism serta menginisiasi program lingkungan seperti Eko-Pesantren yang mengedukasi santri tentang gaya hidup ramah lingkungan, termasuk penggunaan pembalut kain sebagai alternatif berkelanjutan (sustainable).

“Kalau bukan sekarang kita mulai, kapan lagi?” ujarnya.

Meski sempat menghadapi resistensi, ia memandangnya sebagai bagian dari proses edukasi sosial.


Merangkul Generasi Z dan Aksi Nyata

Di tengah kesenjangan generasi, Ninin menghadirkan pendekatan yang cair. Ia menggabungkan nilai tradisional dengan gaya komunikasi kekinian. Rapat organisasi digelar di ruang-ruang yang dekat dengan Gen Z, seperti kafe atau ruang kreatif, tanpa meninggalkan adab terhadap generasi senior.

Hasilnya, 12 cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah di Sukoharjo yang sebelumnya pasif kini kembali aktif dan produktif. Tidak berhenti pada wacana, Ninin juga menghasilkan produk konkret berupa Standard Operating Procedure (SOP) Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual di lingkungan Muhammadiyah. Langkah untuk bekerja sama dengan lembaga seperti LBH APIK dan Rahimah pun menjadi salah satu terobosan penting yang mendapat apresiasi dari Kementerian Agama wilayah.


Refleksi Hari Kartini: Melawan Patriarki

Dalam refleksinya menyambut Hari Kartini, Ninin menyampaikan pandangan tegas namun reflektif.

“Perempuan itu harus feminis. Lawan kita adalah patriarki, bukan laki-laki,” ungkapnya.

Baginya, menjadi perempuan Muhammadiyah berarti melawan segala bentuk ketidakadilan seperti marginalisasi, subordinasi, kekerasan, hingga stigma sosial, karena hal tersebut tidak sejalan dengan nilai Islam berkemajuan. Namun, perjuangan itu tetap harus dibarengi dengan manajemen diri yang baik antara peran domestik dan publik, serta dukungan lingkungan yang sehat.

Di era yang serba kompleks, Ninin menegaskan bahwa perempuan harus terus bertumbuh.

Upgrade diri tidak harus selalu lewat pendidikan formal. Forum, diskusi, dan ruang berbagi adalah tempat belajar yang luar biasa,” pesannya.

Semangat itulah yang menjadikan Ninin sebagai representasi Kartini masa kini—bukan hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga menghadirkan aksi nyata. Dari Sukoharjo, jejaknya menegaskan bahwa perempuan berkemajuan bukan sekadar konsep, melainkan gerakan hidup yang terus menyala. (Fika/Humas UMS)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.