Baca Doa Lailatul Qadar, Kultum Ini Ungkap Rahasia Keberhasilan Ramadan
![]() |
| Ilustrasi: Menjemput Malam Lailatul Qadar dengan memperbanyak ibadah dan berdoa 'Allahumma innaka 'afuwwun tuḥibbul 'afwa fa'fu 'annī'. (Foto: Ilustrasi/Generative AI) |
SUKOHARJO – Doa memohon ampunan "Allahumma innaka 'afuwwun" harus menjadi dzikir utama setiap muslim untuk ikhtiar meraih keberhasilan Ramadan tahun ini. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Muhammad Labib Mu'tashim dalam Kultum di Masjid ICMA Blimbing Sukoharjo saat memasuki fase i'tikaf dan menjemput Malam Lailatul Qadar, Kamis malam (12/3/2026).
Memasuki fase krusial di pengujung bulan suci, Ustadz Muhammad Labib Mu'tashim, S.Pd., memberikan panduan khusus bagi jamaah. Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Blimbing tersebut menekankan bahwa kunci keberhasilan Ramadan terletak pada sejauh mana seorang hamba meraih ampunan Allah SWT.
"Keberhasilan Ramadan adalah diampuni. Oleh karena itu, kita harus mengejar kemuliaan malam tersebut dengan sungguh-sungguh," ujar Ustadz Labib.
Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadan Sesuai Sunnah
Beliau kemudian merujuk pada kebiasaan Rasulullah SAW saat menghadapi fase pamungkas ini. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW memberikan teladan nyata dengan meningkatkan intensitas ibadah secara drastis dibandingkan hari-hari sebelumnya.
"Apabila Nabi memasuki sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut, dan membangunkan keluarganya," jelas Ustadz Labib mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Istilah 'mengencangkan sarung' menjadi simbol totalitas dalam beribadah. Hal ini mencakup upaya menjauhi kesibukan duniawi sementara waktu demi fokus menghidupkan 10 malam terakhir Ramadan.
Doa Lailatul Qadar: Senjata Utama Meraih Ampunan
Selain fisik yang prima, aspek spiritual berupa doa menjadi instrumen paling vital. Ustadz Labib mengajak jamaah untuk senantiasa membasahi lidah dengan doa Lailatul Qadar yang diajarkan Rasulullah kepada 'Aisyah RA.
"Bacalah Allāhumma innaka 'afuwwun tuḥibbul 'afwa fa'fu 'annī. Artinya, Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah aku," pesannya dengan khidmat.
Sebagai penutup, beliau mengingatkan agar jamaah tidak menjadi orang yang merugi. Sebab, siapa pun yang terhalang dari kebaikan bulan Ramadan, maka sungguh ia telah kehilangan kesempatan emas yang belum tentu datang kembali tahun depan.
"Kalau Ramadan saja tidak bisa meraih kebaikan-kebaikan yang sangat banyak, apalagi dengan bulan-bulan yang lain di luar Ramadan," pungkasnya.

Tidak ada komentar