Kultum Ramadhan: Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Kehidupan Sehari-Hari
Kultum Ramadhan: Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-Hari
Ekshan Rahmad Wardani, S.Pd, M.Pd.
Sekretaris Majelis Tabligh PCM Bekonang
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ
الحمدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ،
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Amma ba’du,
Jamaah yang
dirahmati Allah,
Kita hidup di
zaman yang serba cepat, serba sibuk, dan kadang serba lelah. Banyak orang
merasa kehilangan arah dan kehilangan teladan.
Padahal, Allah SWT telah menghadirkan seorang manusia sempurna yang
menjadi contoh dalam segala hal: Rasulullah
Muhammad SAW.
Dalam QS. Al-Ahzab [33] ayat 21, Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ
فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ
وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh,
pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta
yang banyak mengingat Allah.”
Ayat ini
menegaskan bahwa teladan hidup yang
sejati bukanlah selebritas, politisi, atau pengusaha sukses, tetapi Rasulullah SAW,
yang hidupnya penuh hikmah, akhlaknya luhur, dan hatinya suci.
Kultum Ramadhan: Dunia Sementara Akhirat Selamanya
Akhlak Rasulullah: Cerminan Al-Qur’an
Dalam hadis riwayat Imam Muslim no. 746, Aisyah RA
ketika ditanya tentang akhlak Nabi SAW, menjawab singkat:
فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنََ
“Sesungguhnya
akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an.”
Artinya,
setiap perilaku Rasulullah SAW adalah penjelmaan nilai-nilai Al-Qur’an: kasih
sayang, kejujuran, kesabaran, keadilan, dan kepedulian sosial. Dalam setiap
langkah beliau, kita menemukan kehidupan
yang berisi nilai-nilai Ilahi yang hidup dan membumi.
Mari kita
lihat bagaimana beliau menjadi contoh dalam berbagai aspek kehidupan yang
sangat dekat dengan kita.
1.
Teladan dalam
Keluarga: Lembut dan Penuh Kasih
Banyak yang
mengira menjadi kepala keluarga berarti harus berkuasa, memerintah, dan
ditakuti. Tapi Rasulullah menunjukkan hal yang berbeda. Dalam hadis riwayat
Imam Tirmidzi, no. 3895. Al-Hafizh Abu Thahir menilai bahwa hadits ini sahih, Rasulullah
SAW bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ
لِأَهْلِي
“Yang
terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku
adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”
Rasulullah SAW membantu istrinya di rumah, menjahit bajunya sendiri,
menyapu, dan berbicara dengan lembut. Beliau bukan hanya pemimpin umat, tapi
juga suami penuh cinta dan ayah yang penyayang. Dalam satu riwayat shahih dalam Ghayatul Maram
(70-71): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 18-Bab Al Walad Taqbiluhu wa Mu’anaqotuhu.
Muslim: 43-Kitab Al Fadha’il, hal. 65] disebutkan, beliau
mencium cucunya Hasan dan Husain. Lalu seorang sahabat berkata, “Saya punya
sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang saya cium.” Rasulullah
SAW menjawab:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak tidak akan
memperoleh rahmat Allah.”
Beginilah
kasih dalam keluarga Nabi SAW, kasih yang melahirkan kedamaian, bukan
ketakutan.
2.
Teladan dalam
Sosial: Menyapa, Menolong, dan Memaafkan
Rasulullah SAW
tidak pernah membeda-bedakan manusia.
Beliau menyapa setiap orang terlebih dahulu, bahkan anak kecil dan
budak. Dalam hadis riwayat Muslim Beliau SAW bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ
أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Jangan kamu meremehkan suatu perbuatan baik sekecil apapun
meski kamu hanya bertatap muka dengan saudaramu dengan wajah cerah dan ceria.”
Rasulullah SAW juga selalu memaafkan. Saat beliau menaklukkan Makkah, para
musuhnya gemetar ketakutan, tapi beliau berkata:
اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ
“Pergilah,
kalian semua bebas.” (HR. Al-Baihaqi)
Tidak ada
pembalasan, tidak ada dendam. Itulah kemuliaan akhlak yang membuat musuh pun
akhirnya mencintainya.
3.
Teladan dalam Bekerja dan Bermuamalah: Jujur dan Amanah
Sebelum menjadi nabi, beliau dikenal dengan gelar Al-Amin, orang yang
sangat bisa dipercaya. Dalam berdagang, beliau tidak menipu, tidak menekan,
tidak curang. Rasulullah SAW bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ
وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para
Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada.” (HR.
Tirmidzi no.1209, ia berkata: “Hadits hasan, aku tidak mengetahui selain lafadz
ini”)
Bayangkan, jamaah sekalian, betapa tinggi derajat orang yang jujur dalam pekerjaan dan tanggung jawabnya. Karena kejujuran adalah bukti kita
meneladani Rasulullah SAW.
4. Teladan
dalam Ibadah: Penuh Cinta dan Ketulusan
Rasulullah adalah manusia paling sibuk di dunia, tapi paling tekun
beribadah. Beliau berdiri lama dalam shalat malam hingga kakinya bengkak. Diriwayatkan
oleh Al- Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820, Aisyah RA bertanya, “Wahai
Rasulullah, bukankah dosamu telah diampuni?” Beliau SAW menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.”
Shalat bagi beliau bukan kewajiban semata, tapi kebutuhan hati. Zikir bukan sekadar rutinitas, tapi napas ruhani.
Pandangan Ulama Tentang Keteladanan
Rasulullah SAW
Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’
Ulumuddin: “Barang siapa ingin menjadi manusia terbaik, hendaklah ia meniru
akhlak Rasulullah, karena di sanalah letak kesempurnaan iman.”
Sementara KH. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW harus
diwujudkan dalam amal nyata. Ketika beliau mengajarkan surat Al-Ma’un berulang kali, tujuannya bukan
hafalan, tapi kesadaran sosial. Beliau
ingin umat Islam tidak sekadar beribadah ritual, tapi juga meneladani
kepedulian Nabi SAW terhadap fakir miskin dan anak yatim.
Kisah Inspiratif: Nabi dan Anak
Kecil Yahudi
Dalam hadis
riwayat Imam Al-Bukhari no. 1356, dari Anas bin Malik RA, beliau berkata: “Ada seorang anak kecil dari anak-anak orang Yahudi, dia dahulu sering
melayani Nabi SAW. Pada suatu ketika anak tersebut menderita sakit, maka Nabi
SAW datang menjenguk anak tersebut. Nabi SAW duduk di sisi kepalanya lalu
bersabda: ‘Masuklah engkau ke dalam Islam’. Maka sang anak melirik/melihat
kepada ayahnya yang ketika itu ada di dekatnya, maka sang ayah mengatakan
kepada anaknya: ‘Taatlah kepada Abul Qasim,’ maka anak itu kemudian memeluk
Islam. Maka setelah itu keluarlah Nabi SAW sambil berkata: ‘Segala puji hanya
milik Allah yang telah menyelamatkan anak itu dari api neraka.'”
Ini satu kisah yang menakjubkan, bagaimana akhlak Rasulullah SAW,
bagaimana perangai Nabi SAW sebagai qudwah (contoh/teladan)
bagi umat ini, bahkan bagi umat manusia. Ketika beliau mendengar ada sorang
anak yang bukan seorang muslim ini dalam keadaan sakit, maka beliau SAW datang
kepada anak tersebut untuk menjenguknya.
Penutup
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Meneladani Rasulullah SAW bukan berarti semata meniru bentuk jubahnya atau
gaya serbannya, tapi meniru cara
berpikir dan cara berakhlaknya. Meneladani beliau berarti jujur di kantor,
sabar di rumah, peduli di masyarakat, dan istiqamah dalam ibadah. Rasulullah SAW
bersabda:
مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ
أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan
barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di Surga.” (HR At Tirmidzi, kitab al Ilmu,
Bab Ma Jaa fil Akhdzi bi Sunnah Wajtinaab al Bida’, no. 2678)
KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan, ”Umat yang berjiwa Islam akan selalu
mencintai Nabi Muhammad dengan mengamalkan segala tuntunan dan perintahnya”. Maka mari kita buktikan cinta itu
dengan tindakan. Mari hidup seperti
Rasulullah SAW, jujur, lembut, sabar, dan penuh kasih. Karena dunia butuh bukan
hanya orang pandai bicara, tapi orang yang menyebarkan teladan. Wallahu a’lam.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ
نَبِيَّكَ مُحَمَّدًا صِدْقًا، وَيُحِبُّونَهُ حَقًّا، وَيَسِيرُونَ عَلَى
هَدْيِهِ فِي كُلِّ شُؤُونِ حَيَاتِنَا، وَاحْشُرْنَا مَعَهُ فِي جَنَّاتِ
النَّعِيمِ.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar