Header Ads

Header ADS

Ramadhan Bulan Takwa: Puasa untuk Meraih Takwa


Ramadhan Bulan Takwa: Puasa untuk Meraih Takwa

KH. Ihsan Saifuddin, S.Ag

Penasihat Majelis Tabligh PDM Sukoharjo

 

Relevansi puasa dan takwa

Antara puasa dan takwa terdapat relevansi yang sangat dekat, sebagaimana dijelaskan pada Al-Qur’an, bahwa tujuan puasa adalah untuk meraih derajat takwa. Keberhasilan meraih derajat takwa adalah pertanda kesuksesan puasa seorang hamba.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah:183)

Ketika dengan puasa seseorang berhasil meraih derajat takwa, maka dia akan mendapat jaminan surga, bahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Allah berfirman:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwabertakwa." (QS. Ali Imran: 133)

Dengan predikat takwa yang telah diraihnya, seseorang nantinya bisa masuk surga bersama seluruh keluarganya, asalkan keluarga tersebut adalah keluarga beriman.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ

"Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di surga..."  (QS. Ath Thur : 21)

Selain berkesempatan masuk surga bersama keluarga, diberi kesempatan juga masuk surga bersama sesama orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ طِبۡتُمۡ فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ

"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-zumar: 73)

Oleh karena orang bertakwa balasannya surga, marilah kita berusaha puasa kita ini didasari atas  "Imanan wa ihtisaban" agar dosa-dosa kita diampuni. Ketika diampuni dosananya, maka tidak ada tempat yang pantas baginya di akhirat nanti kecuali surga.

 

Ramadhan Bulan Tazkiyah: Momentum Rehab Hati


Deskripsi takwa

Untuk mendapatkan gambaran lebih kongkrit apa dan bagaimana takwa serta arti pentingnya, berikut ini definisi takwa dijelaskan demikian:

التَّقْوَى هِيَ إِمْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ سِرًّا وَعَلَانِيَّةً

"Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, di saat sendirian atau bersama yang orang banyak".

Itulah definisi takwa sebagaimana dijelaskan ulama yang shaleh. Adapun kesempurnaan takwa, lebih lanjut dijelaskan demikian:

 فَلَا تَتِمُّ إِلَّا بِالتَّخَلِّي عَنْ كُلِّ رَذِيْلَةٍ وَالتَّحَلِّيْ بِكُلِّ فَضِيْلَةٍ

"Ketakwaan kepada Allah tidak akan sempurna, kecuali jika disertai dengan membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, dan menghiasnya dengan sifat terpuji".

Melengkapi pembahasan takwa, selanjutnya dijelaskan urgensi takwa demikian:

فَهِيَ الطَّرِيْقُ الَّذِيْ مَنْ سَلَكَهُ إِهْتَدَى وَالْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِيْ مَنِ اسْتَمْسَكَ بِهَا نَجَا

"Takwa adalah jalan hidayah bagi siapa yang menempuhya. Takwa adalah juga tali yang kokoh bagi siapa yang beregangteguh dengannya akan selamat".  (Dalilut Thalibin Fie Bayanit Takwa, Al-Habib Alwi bin Ali bin Alwi Al-Habsy)

 

Konsekuensi takwa

Berdasarkan definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa konsekuensi takwa mencakup tiga hal yaitu: taat, takholli dan tahalli.

Pengertian singkat untuk masing-masing tersebut di atas, dapat dijelaskan demikian:

1. Taat

Ketakwaan seorang hamba ditandai dengan sifat taat yaitu "imtitsalul awamir" (melaksanakan perintah) dan "ijtinabun nawahi" (menjauhi larangan).

Ketika perintah Allah dilaksanakan dan larangan Allah ditinggalkan, jadilah dia seorang yang bertakwa. Itulah makna "taat".

Sekadar contoh sikap taat, ketika perintah jilbab diturunkan dalam Al-Qur’an, maka dengan serta merta kaum muslimah kala itu langsung mengambil kain yang ada untuk menutup auratnya. Demikian pula ketika datang perintah haramnya minum khamer, saat itu juga khamer yang disimpannya ditumpahkan di jalan-jalan sehingga digambarkan khamer membanjiri kota Madinah.

 

2. Takholli

Yaitu mengosongkan jiwa dari perbuatan tercela. Perbuatan tercela dalam idiomatik Jawa dikenal dengan istilah  "Ora ilok"  yaitu tidak elok atau tidak bagus. Selain diistilahkan ora ilok diistilahkan juga "saru" yaitu perbuatan tercela. Kata "saru" yang dikenal dalam bahasa Jawa, sebenarnya adalah dari bahasa Arab, bahkan dari hadits Nabi . Beliau pernah bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْتَقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

"Cukuplah seseorang dikatakan sarru (tercela), manakala suka merendahkan saudara sesama muslim". (HR. Tirmidzi: 1850)

Hadits tersebut di atas cukup mewakili sifat jahat yang setiap muslim diwajibkan untuk takholli darinya.

Melengkapi sifat takholli dari segala sifat jahat, nabi juga menegaskan agar setiap muslim mengosongkan diri dari sifat tha'an, la'an, fakhis, dan badzi' sebagaimana dijelaskan nabi pada hadits berikut ini:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

"Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, bukan pula seseorang yang jahat dan berperilaku tercela". (HR. Tirmidzi: 1900)

 

3. Tahalli

Yaitu menghiasi diri dengan akhlak terpuji. Sifat terpuji sangatlah banyak ragamnya. Di antara contoh sifat terpuji yang sangat relevan dengan sifat takholli dan tahalli adalah kata  (تقوي) yang terangkai dari 4 huruf yaitu (ت)  Tawadhu', (ق) Qona'ah, (و) Wara' dan (ي)  Yakin.

Ke-empat pengertian tersebut yaitu: tawadhu' qona'ah, wara' dan yakin akan dijabarkan pada bab tersendiri, insya Allah

Ketika takholli dan tahalli sudah ada dalam jiwa-jiwa bertakwa, maka akan terwujud apa yang diistilahkan dengan tajalli, yaitu kondisi seorang hamba yang dapat merasakan bahwa Allah sangat dekat dirinya.

Sedemikian dekatnya hingga dirinya tak dapat lepas dari pengawasan Allah. Inilah sosok seorang hamba yang telah sampai maqom "Muraqabatullah"  Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا

“Dan Allâh Maha mengawasi segala sesuatu.: (QS. Al-Ahzâb/33:52)

 

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Allâh menyertai kalian dimanapun kalian berada.” (QS. Al-Hadîd/57:4)

 

Ayat tersebut di atas selaras dengan hadits nabi berikut ini, beliau bersabda:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .{رواه البخاري}

"Engkau beribadah kepada Allâh seakan-akan engkau melihatNya. Maka apabila engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allâh melihatmu". (HR. Bukhâri)

 

Kisah nyata Sifat takwa

Menjabarkan sifat takwa yang mencakup taat, takholli, tahalli dan tajalli, akan lebih mudah dipahami dengan sebuah kisah yang yang dituturkan Imam Ibnul Jauzy  (Kitab Uyunul Hikayat : 89 Cet Darul Kutub al Ilmiyah 1971)

Al kisah, suatu hari Abdullah bin Umar bersama sahabat-sahabatnya pergi ke pinggiran kota Madinah. Saat istirahat dan makan, mereka bertemu dengan seorang penggembala yang sedang lewat.

Saat bertemu dengan penggembala itu, Ibnu Umar kemudian mengajaknya untuk ikut berkumpul dan makan bersama.

"Kemarilah, ayo makan bersama kami," ajak Ibnu Umar kepada penggembala yang sedang melintas itu.

"Terima kasih, saya sedang berpuasa," jawabnya singkat.

Ibnu Umar merasa kagum karena di tengah terik matahari, penggembala itu tetap menjalankan ibadah puasa.

Di hari yang sangat panas seperti ini, di tengah perbukitan sambil menggembala kambing, engkau tetap berpuasa?" ucap Ibnu Umar.

"Waktu berlalu begitu cepat, saya tidak ingin menyia-nyiakannya," jawab penggembala itu.

Ibnu Umar kemudian mengajukan penawaran kepada penggembala agar mau menjual salah satu kambingnya.

"Nanti sebagian dagingnya kami bagikan kepadamu untuk kamu gunakan sebagai bekal berbuka puasa," tawar Ibnu Umar.

"Kambing-kambing ini bukan punyaku tapi punya majikanku," jawab penggembala menolak tawaran Ibnu Umar.

"Gampang, nanti kamu bilang saja pada majikanmu bahwa salah satu kambingnya dimakan serigala," kata Ibnu Umar menggoda penggembala itu.

"Lalu di manakah Allah?" jawab penggembala meyakinkan bahwa Allah selalu mengawasi hamba-Nya. Tidak lama kemudian penggembala itu berlalu meninggalkan Ibnu Umar.

Setelah kembali ke Madinah, Ibnu Umar menemui majikan penggembala yang diketahui sebagai hamba sahaya itu. Ibnu Umar kemudian membeli kambing-kambingnya. Tidak hanya itu, Ibnu Umar juga kemudian memerdekakan penggembala tersebut dan memberikan kepadanya kambing-kambing yang baru saja dibeli.

Demikianlah berkah kejujuran, berkat kejujurannya, ia mendapatkan banyak kambing dan menjadi manusia merdeka.andai saja si penggembala itu mau menjual kambing saat pertama kali bertemu Ibnu Umar, dia akan tetap menjadi budak dan hanya akan mendapat uang seharga 1 kambing dan juga sepotong daging. Wallahu a'lam

 

Puncak sifat takwa

Di antara sekian banyak cabang sifat takwa, menjaga kehormatan orang lain adalah puncak akhlak takwa. Sifat inilah yang merupakan ciri khusus salafush shaleh panutan kita. Keshalehan seseorang sangat ditimbang dengan ukuran akhlak. Untuk itulah Umar ibn Abdul Aziz pernah menyatakan:

أَدْرَكْنَا السَّلَفَ وَهُمْ لَا يَرَوْنَ الْعِبَادَةَ فِي الصَّوْمِ وَلَا فِي الصَّلَاةِ، وَلَكِنْ فِي الْكَفِّ عَنْ أَعْرَاضِ النَّاسِ.

"Kami dapati para Salafush shaleh terdahulu, mereka tidak menganggap ibadah hanya masalah puasa tidak pula hanya masalah sholat. Akan tetapi, menahan diri dari mengusik kehormatan orang lain adalah juga ibadah".  (Tahrij hadits Ihya' Ulumiddin, Al Iraqy : 1745)

 

Wa shallallah ala sayyidina Muhammadin wa ala alaihi wa shahbih.  Walhamdu lillah Rabbil Aalamiin.

 

Disampaikan pada Kuliah Shubuh Ramadhan di Masjid Agung Imam Syuhodo Muhammadiyah Ranting Wonorejo, Ahad 01 Maret 2026

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.