Header Ads

Header ADS

Menyelami Makna Idul Fitri Sejati: Menjaga Konsistensi Ibadah Pasca-Ramadhan

Ilustrasi minimalis sebuah lentera bercahaya, tasbih, dan kitab suci Al-Qur'an di atas meja kayu dengan latar belakang jendela di waktu senja, melambangkan konsistensi ibadah atau istiqamah.
Simbolitas Istiqamah: Menjaga cahaya iman tetap menyala melalui konsistensi ibadah pasca-Ramadhan. (Ilustrasi: AI Generated/Gemini)

KLATEN – Bertempat di kediamannya, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pedan Drs. H. Waluyo Raharjo mengajak warga Muhammadiyah Troketon untuk menyelami Makna Idul Fitri Sejati melalui penguatan istiqamah dan semangat saling memaafkan, Kamis (26/3/2026). Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 19.50 WIB ini menjadi ajang refleksi bagi warga Troketon setelah melewati bulan suci Ramadhan.

Dalam tausiyahnya, Drs. H. Waluyo Raharjo menekankan bahwa hari kemenangan sebenarnya tidak terletak pada simbolisme fisik yang bersifat sementara. Beliau mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada euforia lahiriah semata.

"Hari raya itu bukanlah bagi orang yang berbaju baru, tetapi orang yang beridul fitri adalah bagi barangsiapa saja yang bertambah ketaatannya," ujar Drs. H. Waluyo Raharjo di hadapan ratusan anggota Majlis Ta'lim binaannya.

Peningkatan Ketaatan dan Istiqamah

Pesan ini menekankan pentingnya peningkatan ketaatan sebagai tolok ukur keberhasilan ibadah. Merujuk pada Surah Fussilat ayat 30, beliau menjelaskan bahwa istiqamah atau teguh pendirian dalam beribadah adalah kunci untuk meraih ketenangan dan kabar gembira berupa surga.

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit," tegas Waluyo Raharjo mengutip hadis riwayat Muslim untuk memotivasi jamaah agar menjaga ritme ibadah pasca-Ramadhan.

Amalan Sunnah di Bulan Syawal

Selain penguatan mental, beliau membedah esensi hari raya melalui tiga amalan praktis di bulan Syawal. Pertama adalah konsistensi doa agar hati tidak dicondongkan pada kesesatan, kedua menjaga keikhlasan beribadah, dan ketiga menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

"Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu diikuti 6 hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti puasa setahun penuh," tambahnya mengingatkan keutamaan puasa sunnah tersebut.

Beliau juga menggarisbawahi bahwa ciri orang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan sesama. Pertemuan hangat ini ditutup dengan ajakan muhasabah diri sesuai Surah Al-Hasyr ayat 18, agar setiap individu selalu memperhatikan bekal amal untuk hari esok. [Kontributor: Muhammad Farhan Al Yuflih]

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.