Memahami Langkah Licik Syiah
Syiah itu mencakup akidah, fikih, dan politik. Lahirnya kelompok ini pun tidak lepas dari gugatan terhadap kekuasaan.
Jika dilihat saat ini, fenomenanya mirip dengan para politisi: penuh akrobatik dan intrik. Video-video yang ditampilkan Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) di Iran menunjukkan bahwa langkah para tokoh agama di sana serupa dengan kelompok politik di tanah air.
Mereka rajin melakukan mobilisasi massa, meneriakkan yel-yel penyemangat, serta melontarkan seruan kehancuran bagi lawan. Bahkan, di sela khutbah dan ceramah keagamaan, diselipkan ungkapan “kematian bagi AS dan Israel.”
Bagi sebagian kalangan—seperti kelompok kiri, pecinta politik praktis, kaum marginal, dan kelompok perlawanan—langkah yang dilakukan Iran sangat diminati. Maka, tidak heran jika ada orang Indonesia yang tiba-tiba ingin menjadi Syiah, karena pola seperti ini telah lama dibentuk.
Opini yang dibangun ke publik pun mirip dengan para politisi pada umumnya. Disebutkan bahwa target serangan di wilayah Teluk adalah aset Amerika Serikat.
Namun, kenyataannya di Arab Saudi, yang diserang mencakup berbagai wilayah dan jenis objek, seperti ladang minyak (di Provinsi Timur dan Rubu’ Khali), Kota Zulfi, Kota Hafr al-Batin, Kota Al Jauf, Pelabuhan Yanbu, serta kompleks Diplomatic Quarter yang menjadi lokasi kedutaan besar berbagai negara, termasuk Indonesia.
Mengutip pernyataan Duta Besar Arab Saudi di Jakarta, Faisal Al Amudi, Iran menyerang Israel hanya sekitar 15 persen, sedangkan 85 persen rudal dan drone diarahkan ke negara-negara Islam tetangganya di kawasan Teluk.
Terkait ibadah haji, sejak lama Iran disebut ingin ikut campur dalam pengelolaannya. Hal ini juga didukung oleh sebagian kelompok Syiah dan kalangan kiri di Indonesia.
Padahal, Iran memiliki kota suci seperti Qum dan Masyhad, yang pengelolaannya tidak dibagi dengan negara lain. Bahkan, antarwilayah dalam negeri saja tidak serta-merta dapat ikut campur.
Hal ini serupa dengan pengelolaan Masjid Istiqlal di Jakarta. Tidak mungkin pemerintah daerah lain, misalnya Jawa Tengah, tiba-tiba ikut menjadi panitia dan meminta bagian dari pengelolaan parkir atau infak.
Namun demikian, Syiah kerap dipandang sebagai kelompok yang pandai mencari simpati, mahir melakukan manipulasi, dan memengaruhi opini publik.
Tidak ada komentar