Kultum Ramadhan: Amalan Pengubah Takdir
Kultum Ramadhan:
Amalan Pengubah Takdir
KH. Ihsan
Saifuddin, S.Ag
Penasihat
Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته...
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Pembahasan "Amalan Pengubah
Takdir" terdengar agak janggal, utamanya di kalangan masyarakat awam. Hal
itu karena umumnya mereka memahami takdir itu sesuatu yang sudah paten dan
tidak bisa diubah. Untuk lebih jelasnya berikut ini kita uraikan urutan takdir
agar memudahkan memahami masalah.
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Menurut manhaj Ahlussunnah Wal
Jamaah, peringkat takdir itu ada 4, yaitu: al-ilmu (pengetahuan), al-kitabah
(tulisan), al-masyi'ah (kehendak),
dan al-kholq (penciptaan).
Pada umumnya, masyarakat mengenal
masalah takdir hanya di peringkat ke-2, yaitu al-kitabah. Padahal, di
atasnya masih ada al-masyi'ah dan al-kholq. Jelasnya, apa yang
sudah tertulis (takdir kitabah) bisa saja berubah jika Allah ﷻ menghendaki, itulah makna takdir masyi'ah. Merubah takdir, adalah
juga takdir yang merupakan hak prerogatif Allah ﷻ.
Merubah takdir atau menetapkan apa
yang sudah ditulis, dijelaskan pada Surat Ar-Ra’d/13 ayat 39 berikut,
يَمۡحُواْ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثۡبِتُۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ
"Allah menghapus dan
menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitāb Lauḥ Maḥfuẓ.”
Kultum Ramadhan: Istiqamah dalam Ibadah
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Berdasarkan ayat Al-Qur'an yang kita bahas di atas, dapat kita simpulkan bahwa perubahan takdir adalah juga bagian dari takdir Allah ﷻ, jika Dia menghendaki. Ayat tersebut dikuatkan oleh hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan Imam Tirmidzi: 2065, Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ
وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ
"Tidak ada yang dapat
mencegah takdir kecuali doa dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebajikan."
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Termasuk juga bukti energi positif
doa sebagai amalan penolak takdir, dalam Taqrib Tadmuriyah: 496, Syaikh
Muhammad Ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
فَالدُّعَاءُ يَرْفَعُ الْقَضَاءَ، فَكَمْ مِنَ
الْمَصَائِبِ ارْتَفَعَتْ بِالدُّعَاءِ، وَكَمْ مِنْ نِعَمٍ جَلَبَهَا الدُّعَاءُ
[تَقْرِيبُ التَّدْمُرِيَّةِ صـ ٤٩٦]
"Doa itu mampu 'menolak' takdir. Berapa banyak musibah dapat
ditolak dengan sebab doa, dan berapa banyak pula kenikmatan diraih dengan doa."
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Faidah yang dapat dipetik dari pernyataan tersebut di atas, mari berusaha menolak takdir buruk dengan doa, sebab Allah ﷻ telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Jangan pula tinggalkan doa, sebab siapa meremehkan doa, Allah ﷻ akan murka kepadanya.
Berkenaan dengan pasti terkabulnya
doa seseorang, Asy Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam
Syarhu Riyadhis Shalihin [1/221] pernah berkata, "Jika seseorang
berdo'a kepada Rabbnya dalam keadaan darurat dan ia yakin bahwa Allah akan
mengabulkan doanya, maka sungguh pasti
Allah ﷻ akan mengabulkannya".
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Melengkapi pembahasan doa sebagai
amalan penolak takdir, kita kokohkan keyakinan kita dengan apa yang disabdakan Sayyidina Rasulullah ﷺ, bahwa dengan doa akan mendapatkan salah satu di antara tiga,
hal ini sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan Imam Ahmad [3/18] berikut
ini. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ
فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى
ثَلاَثٍ
“Tidaklah seorang muslim berdoa
kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung unsur dosa dan pemutus
silaturahmi, kecuali Allahu pasti akan memberi salah satu di antara tiga...”
Dalam hadis yang dinilai hasan oleh
beberapa ulama, di antaranya Syeikh Al-Albani tersebut, Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya,
إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ
وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ
مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
“Adakala Allah akan menyegerakan
mengabulkan doanya, adakalanya Allah akan menyimpannya baginya di akhirat
kelak, dan adakalanya Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal”.
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Menguatkan keyakinan kita bahwa doa
adalah bagian dari amalan penolak takdir, kisah Nabi Zakaria ‘alaihis salam
adalah salah satu buktinya. Dikisahkan
bahwa Nabi Zakaria dalam kondisi "kibar itiyya" (berusia
sangat tua) terlebih isterinya juga "imro'ah 'aqiran" (perempuan
mandul). Seorang laki-laki tua renta sudah memasuki masa uzur, belum lagi
kondisi perempuan yang mandul, mustahil menghasilkan keturunan. Akan tetapi,
berkah dahsyatnya energi doa ternyata istrinya mampu melahirkan keturunan.
Untuk sekadar penjelasan singkat
berkenaan dengan kisah Nabi Zakaria ‘alaihis salam berikut ini sepenggal
kisahnya kita kutipkan dari Al-Qur'an sekaligus penjelasan singkat menurut Tafsir Al-Muyassar. Dalam Surat Maryam/19 ayat 4, Allah ﷻ berfirman,
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ
رَبِّ شَقِيّٗا
"Dia (Zakaria) berkata, “Ya
Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku
tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu Ya Tuhanku".
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Jika Anda merasa rezeki Anda
ditakdirkan lambat, jangan gampang menyerah. Sebab ada doa penolak takdir.
Pahamilah kisah berikut serta amalkan contoh doanya.
Dalam riwayat Imam Abu Dawud [1555], menurut
penelitian Syaikh Syua'ib Al Arnauth, derajat hadits ini hasan, dikisahkan,
suatu hari Rasulullah ﷺ masuk ke masjid. Ternyata di sana sudah ada seorang laki-laki
Anshar yang bernama Abu Umamah, lalu beliau menyapanya, "Wahai Abu
Umamah, ada apa denganmu, mengapa engkau duduk
duduk di masjid selain waktu shalat?”
Abu Umamah menjawab, "Pusing
mikir utangku terlalu banyak wahai Rasulullah”.
Beliau kembali bertanya, “Maukah
kamu jika aku ajarkan suatu bacaan yang jika kamu membacanya, maka Allah akan
menghapuskan kebingunganmu dan memberi kemampuan melunasi utangmu?”
Abu Umamah menjawab, “Tentu, ya
Rasulullah."
Nabi melanjutkan sabdanya, “Jika memasuki
waktu pagi dan sore hari bacalah,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ
وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ
الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ
الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari kedukaan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan
dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kebakilan, aku
berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang lain.”
Selanjutnya Abu Umamah menuturkan,
فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، فَأَذْهَبَ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ هَمِّي، وَقَضَى عَنِّي دَيْنِي
“Setelah aku mengamalkan doa itu,
Allah benar-benar menghilangkan kebingunganku dan membantu pelunasan hutangku".
Jama'ah sekalian rahimakumullah,
Uraian di atas sudah cukup luas dan
jelas, mari berdoa terus tiada putus, seraya banyak melakukan amal shalih,
insya Allah takdir yang tidak menyenangkan dapat kita hindari atas izin Allah.
KH. AR Fachruddin (Pak AR) rahimahullah
pernah berpesan, “Kalau belum berhasil, maka diulangi. Kalau belum berhasil,
maka ulangi lagi. Jangan bosan dan putus asa.”
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Tidak ada komentar