Kultum Ramadhan: Memburu Warisan Para Nabi
Kultum Ramadhan:
Memburu Warisan Para Nabi
Andika Rahmawan
Wakil Sekretaris
Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللّٰهِ
وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Maasyiral
Muslimin Rahimakumullah
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam pencarian harta dan
kekayaan materi sebagai ukuran keberhasilan. Namun, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa ada sesuatu yang jauh
lebih berharga daripada pencapaian duniawi. Beliau menekankan pentingnya ilmu
sebagai warisan yang sesungguhnya. Dalam hadis riwayat At Tirmidzi dan Ahmad,
sahih menurut Al-Albani, Rasulullah ﷺ bersabda,
إنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
وَإنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا
وَرِّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya
para ulama itu pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan
dinar tidak juga dirham. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Siapa yang
mengambil ilmu itu, maka telah mendapatkan bagian yang paling banyak.”
Islam
adalah agama Allah yang dibawa oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi
Muhammad ﷺ,
dan diajarkan kepada umatnya masing-masing untuk mendapatkan hidup bahagia
dunia dan akhirat.
Kultum Ramadhan: Malas No More, Shalat Forever
Maasyiral
Muslimin Rahimakumullah
Sudah
sepantasnya jika kita bersedih ketika seorang ulama yang meninggal dunia,
karena kejadian tersebut sebanding dengan hilangnya ilmu dari umat manusia. Dalam
hadis riwayat Al Bukhari Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ
انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ
الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا
جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya
Allah tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan
tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa
lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka
bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat
dan menyesatkan.”
Dari
hadis tersebut kita dapat menarik pelajaran: Pertama, ilmu akan hilang dari
umat manusia seiring dengan wafatnya ulama. Kedua, ketika ilmu sudah tidak ada,
seringkali manusia bergantung pada orang-orang yang tak berilmu. Hal ini
mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mencari ilmu, pastikan bahwa ilmu
yang kita peroleh adalah dari orang yang punya kapasitas keilmuan. Dalam Qs. An
Nahl [16] ayat 43, Allah ﷻ berfirman,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ
لَا تَعْلَمُونَ
“Maka
tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”.
Ayat
ini berlaku secara luas, mencakup tidak hanya masalah agama tetapi juga segala
aspek kehidupan. Ini juga mengajarkan kita untuk tidak berbicara tentang
sesuatu jika kita tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentangnya. Dalam Qs.
Al-Isra’ [17] ayat 36, Allah ﷻ berfirman,
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ
مَسْئُولاً
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggunganjawabnya.”
Maasyiral
Muslimin Rahimakumullah
Oleh
karena itu, penting bagi kita untuk selalu memastikan bahwa informasi atau
pendapat yang kita sampaikan benar-benar berdasarkan pengetahuan yang valid.
Sebelum berbicara, kita harus pastikan bahwa kita memahami hal tersebut dengan
baik. Hal ini tidak hanya menjaga agar kita tidak menyesatkan orang lain,
tetapi juga mencegah kita dari kemungkinan membuat kesalahan yang dapat
merugikan. Dengan demikian, kita bisa lebih bertanggung jawab dalam setiap
ucapan dan tindakan kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Dalam Qs. Ali Imran [3] ayat 185, Allah ﷻ berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.”
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, termasuk para ulama.
Maka hendaknya kita terus semangat mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Selain
itu kita juga harus memperhatikan pendidikan anak cucu kita sebagai ajang
pengkaderan ulama-ulama baru. Dalam hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, sahih menurut Al-Albani, Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa,
اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً،
وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang
baik dan amalan yang diterima.”
Demikian
kultum kali ini. Semoga Allah ﷻ memberikan hidayah dan istiqamah agar kita semua selalu
semangat dalam menuntut ilmu, menyebarkan dan mengamalkannya.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ
لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا
يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
.jpg)
Tidak ada komentar