Kultum Ramadhan: Sempurnakan Ikhtiar, Kemudian Tawakal
Kultum Ramadhan:
Sempurnakan Ikhtiar, Kemudian Tawakal
Ahmad
Zanin Nu’man, M.Pd.I
Ketua
Majelis Tabligh PDM Kab. Sukoharjo
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ
وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا
وَالدِّيْن وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى
أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah ....
Dalam
menjalani kehidupan, seorang Muslim dituntut untuk berusaha secara maksimal,
namun dalam waktu yang sama juga diperintahkan untuk berserah diri sepenuhnya
kepada Allah. Dua konsep ini ikhtiar dan tawakal bukanlah dua pilihan
yang saling bertentangan, tetapi justru dua pondasi yang berjalan beriringan.
Banyak kesalahpahaman muncul ketika tawakal disalahartikan sebagai pasrah tanpa
usaha, atau ikhtiar disalahpahami sebagai bentuk kesombongan manusia karena
hanya mengadalkan kemampuannya tanpa melibatkan ketentuan Allah. Bagi seorang
mukmin ideal harus menempatkan konsep ikhtiar dan tawakal seperti dua sayap
yang harus dikepakkan secara bersamaan agar seseorang dapat terbang menuju
puncak keberhasilan dan ketenangan jiwa.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah ...
Ikhtiar
adalah sebuah usaha sungguh-sungguh yang dilakukan seorang hamba untuk mencapai
tujuan atau memecahkan masalah dengan menempuh jalan yang benar, ilmiah, dan
sesuai syariat. Ikhtiar adalah bentuk ketundukan kita pada hukum sebab-akibat
yang telah Allah tetapkan di alam semesta. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam
QS. Ar-Ra’d/13 ayat 11,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ
مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada
pada diri mereka.”
Ayat ini menegaskan
bahwa setiap perubahan dan keberhasilan harus diawali dari aksi dan upaya
manusia itu sendiri. Ikhtiyar dan Tawakal harus berjalan beriringan. Islam
mengajarkan bahwa manusia wajib berusaha dengan sebaik-baiknya, tetapi hasil
akhirnya tetap diserahkan kepada Allah SWT. Jika seseorang hanya mengandalkan
tawakal tanpa usaha, itu bisa menjadi bentuk kemalasan yang tidak dianjurkan
dalam Islam. Sebaliknya, jika seseorang hanya mengandalkan usaha tanpa
menyerahkan hasilnya kepada Allah, itu bisa menjadi bentuk kesombongan dan
keangkuhan. Dalam Ali 'Imran [3] ayat 159 Allah berfirman,
فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.”
Ayat ini
menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, namun justru datang
setelah seseorang berusaha dengan maksimal dan membulatkan tekad. Islam
menanamkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal agar manusia tidak terjebak
dalam dua ekstrem: terlalu mengandalkan usaha hingga lupa kepada Allah atau
hanya berserah diri tanpa berbuat apa-apa.
KH. AR
Fachruddin (Pak AR) pernah berpesan, “Apabila ingin memperbaiki nasib
kita, maka kita harus berani mengubah keadaan kita terlebih dahulu.”
Bersahabat dengan Al-Qur’an
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah ...
Setiap orang
punya harapan dan tujuan, namun siapa yang harapannya semu, siapa pula yang benar-benar
serius dengan cita-citanya? Orang yang serius hanyalah mereka yang secara tulus
mengharapkannya, lalu memproses harapan itu menjadi tekad bulat, dan kemudian
mengejawahkan tekad itu ke dalam amal nyata, itulah yang disebut dengan “wa
sa’aa laha sya’ya” berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh.
Ikhtiar dan
tawakal adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam keseharian seorang
Muslim. Ikhtiar dalam Islam adalah bentuk nyata dari usaha dan kerja keras yang
dilakukan seorang Muslim. Tanpa ikhtiar, tawakal menjadi tidak bermakna.
Implementasi
Ikhtiar dan tawakal pernah dicontohkan dalam berbagai kisah dalam al-Qur’an,
salah satunya kisah ibunda Hajar dan putranya Ismai AS. Demi misi besar dari
Allah SWT. Nabiyullah Ibrahim meninggalkan istri dan putranya di sebuah kampung
yang mencekam, sendirian tanpa bekal selain sekantong kurma dan sedikit air
minum, tentu ini bukan masalah sepele. Jangankan listrik, sumber air saja tidak
ada. bunda Hajar ditinggal di sebuah gubuk tua dibekali sekantong kurma dan
sedikit air minum.
Merasa
bayinya kehausan, Hajar terus berusaha naik ke bukit Shafa, siapa tahu ada air
disana, namun harapan itu sirna tatkala ia tak menemukan apa-apa, Kemudian ia
turun ke Marwa namun juga tak menemukan apapun. Tujuh kali Hajar berlari antara
bukit Shafa dan Marwa untuk mencari air, hingga akhirnya Ismail menjejakkan
kakinya dan muncul sumber air.
Kayakinan
Hajar bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan dirinya, tidak lantas menjadikannya
berpangku tangan. Namun ia terus berusaha mencari, memburu dan menyongsong
rizki. Percobaan pertama sampai keenam berakhir gagal, namun tak membuatnya
menyerah, hingga baru ketujuh kalinya Hajar mendapatkan keberhasilan.
Kisah Hajar
memburu rizki (air) di Bakkah (Makkah sekarang) memberi pelajaran bagi kita
bahwa kesuksesan haruslah diperjuangkan dan diusahakan. Keyakinan Hajar bahwa
dirinya tidak akan terlunta-lunta, ia iringi dengan tindakan nyata mencari air
berulangkali, ia tak hanya duduk manis menunggu rizki datang.
Hajar adalah
potret ibu optimisme ditengah kesuraman hidup ditinggal suami. Hajar memandang
disana masih ada ruang harapan. Harapan untuk terus mempertahankan hidup. Hajar
mengajari kita untuk tidak patah semangat ketika membangun jalan kesuksesan.
Hajar mengajari kita bahwa kegagalan hanyalah tikungan menuju sukses. Hajar
mengajari kita bahwa kegagalan adalah tangga menuju sukses. Hajar mengajari
kita untuk tidak suram menghadapi kehidupan meski bagaimanapun pahit dan
terpuruknya kehidupan kita. Hajar mengajari kita bahwa memiliki cita-cita besar
teguh menghadapi segala ujian, dan bersabar dalam menjalani seluruh proses yang
harus dilaluinya. Karena kesuksesan itu ada saatnya, usaha juga harus memenuhi
dosisnya. Jangan tergesa-gesa memetik hasil, jika masa panen belum tiba
waktunya.
Hal senada
juga dikisahkan dalam sebuah hadits nabi : Dalam suatu hadits yang
diriwayatkan At-Tirmidzi (no. 2344), Umar bin Khattab RA mengatakan bahwa Nabi
SAW mencontohkan bagaimana tawakalnya seekor burung dengan menempuh usaha.
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ
تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ
الطَّيْرُ تَغْدُ وخِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya
kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki
sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan
kembali di sore hari dalam keadaan kenyang."
Allah SWT
telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk-Nya, tetapi rezeki itu tidak akan
datang begitu saja tanpa usaha. Sebagaimana burung harus keluar sarang, manusia
juga harus berusaha dengan cara yang halal dan penuh semangat. Hadits ini
memberikan pelajaran mendalam tentang hakikat tawakal yang sejati. Tawakal
bukan berarti berpangku tangan dan menunggu rezeki datang begitu saja, tetapi
usaha yang sungguh-sungguh disertai keyakinan penuh kepada Allah SWT. Burung
yang dijadikan perumpamaan dalam hadits ini tidak tinggal diam di sarangnya,
melainkan terbang mencari makan sejak pagi hari dan kembali dalam keadaan
kenyang.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah ...
Tawakal dalam
Islam bukan sekedar pasrah tanpa usaha, melainkan bersandar sepenuhnya kepada
Allah SwT setelah melakukan ikhtiar maksimal dan sesuai dengan syariat. Ikhtiar
dan tawakal adalah dua hal yang harus selalu berdampingan dalam keseharian
seorang Muslim. Sebab jika Ikhtiar tanpa
dampingi tawakal maka yang terjadi adalah menjadi sombong, mudah stres dan
putus asa ketika gagal, karena merasa semua hasil hanya bergantung pada
kekuatan dirinya. Adapun jika tawakal
tanpa di dampingi ikhtiar yang terjadi adalah menjadi pemalas, pasrah buta, dan
tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal, karena menentang hukum
sebab-akibat. Jadi yang benar adalah ikhtiar maksimal didampingi tawakal penuh sehingga seseorang akan
bergerak dengan motivasi yang kuat, bekerja keras dengan optimal, dan tetap
tenang menghadapi tantangan, karena yakin bahwa hasil akhirnya telah dijamin
yang terbaik oleh Allah.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah ...
Menjalani hidup dengan semangat Ikhtiar dan Tawakal berarti
kita menjalani peran sebagai hamba yang bertanggung jawab. Kita bertindak
sebagai subjek yang berjuang dan berusaha, sekaligus sebagai hamba yang
berserah diri dan meyakini Kekuasaan Tuhan.
Ki Bagus Hadikukumo pernah berpesan, “Orang yang tidak bertawakal kepada Allah akan kehilangan
ketenangan dan keteguhan, menjadi penakut, serta senantiasa merasa khawatir dan
ragu. Kalaupun ia berani, keberaniannya itu tidak teguh dan mudah berubah
menjadi ketakutan dan kecemasan.”
Lakukan bagian Anda, yaitu berusaha sekuat tenaga. Setelah
itu, serahkan sisa urusan kepada Allah. Dengan demikian, Anda tidak hanya
meraih kemungkinan keberhasilan duniawi, tetapi juga mencapai kekayaan hati
yang hakiki: Ketenangan dan keikhlasan. Wallahu A’lam
نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا مِنَ
الْمُتَوَكِّلِينَ الصَّادِقِينَ، وَأَنْ يُثَبِّتَ قُلُوبَنَا وَيُبَارِكَ فِي
أَعْمَالِنَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى: فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ.
وَاللّٰهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Tidak ada komentar