Khotbah Idul Fitri: Memajukan Kejahteraan Bangsa
Khotbah Idul Fitri: Memajukan Kejahteraan Bangsa
H. DJUMARI, S.Ag, M.S.I
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sukoharjo
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، هُوَ
الَّذِي خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ
رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ، الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي
الْأَرْضِ جَمِيعًا، وَإِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ
اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ،
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ
الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ
مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا،
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ، إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Jamaah
shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ
Segala
puji dan syukur Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn kita panjatkan ke hadirat Allah ﷻ
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Atas segala
rahmat dan nikmat yang Allah ﷻ berikan, baik yang besar maupun yang
kecil, yang banyak maupun yang sedikit, insya Allah kita tetap merasa bersyukur
dan berbahagia, meskipun belum sepenuhnya sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Karena kita semua telah memahami bahwa segala sesuatu terjadi atas kekuasaan,
kehendak, qadar dan iradat Allah ﷻ.
Setiap muslim wajib meyakini adanya takdir dan qadar Allah ﷻ.
Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, khātamul anbiyā’ wal mursalin, suri
teladan terbaik bagi kita semua, penutup para nabi dan rasul. Semoga pula
tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, dan hingga kepada kita semua
sebagai umatnya. Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Jamaah
shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ
Tema khotbah
hari ini adalah “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Judul ini bukan
sekadar penting, tetapi sangat tepat dan relevan dalam kehidupan kita sebagai
umat Islam yang senantiasa berjuang menegakkan agama Allah ﷻ, agar agama ini benar-benar menjadi rahmat
bagi seluruh alam, Islam rahmatan lil ‘alamin.
Yang
dimaksud dengan memajukan dalam khotbah ini adalah menggerakkan ke arah
yang lebih baik, membawa kepada keadaan yang lebih berkembang dan lebih
berkualitas. Artinya, kehidupan manusia harus terus bergerak maju, tidak
terbelakang dalam agama, ilmu, maupun amal. Lalu bagaimana jika seorang pemeluk
agama justru mengalami kemunduran, tidak mengamalkan ajaran agamanya,
tertinggal dalam ilmu, bahkan enggan menjalankan syariat? Inilah yang menjadi
tugas dan tanggung jawab kita bersama, untuk saling mengingatkan dan membimbing
agar tetap berada di jalan Allah ﷻ.
Adapun kesejahteraan
berarti keadaan yang aman, selamat, dan tenteram. Kesejahteraan tidak hanya
menyangkut urusan dunia, tetapi juga kebahagiaan akhirat. Untuk meraih
kesejahteraan tersebut, setidaknya harus ada kesejahteraan spiritual, yaitu
kuat dalam agama, rajin beribadah, giat menuntut ilmu, dan beramal dengan
ikhlas. Kesejahteraan bukan semata-mata harta benda, tetapi juga mencakup
kehidupan sosial yang baik, hubungan muamalah yang harmonis, hidup rukun dan
damai, tidak saling mengejek, tidak saling bertikai, serta terciptanya
ketenteraman dalam seluruh aspek kehidupan.
Sedangkan
yang dimaksud dengan bangsa adalah bangsa Indonesia, agar seluruh
penduduknya memiliki kesejahteraan yang terus meningkat, maju, dan berkembang,
baik secara spiritual maupun material.
Khutbah Idul Fitri: Silaturahmi untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah
shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ
Dalam
suasana Idul Fitri, kita berada dalam kondisi kebatinan yang suci dan kesadaran
spiritual yang berada pada titik tertinggi. Yang terasa bukan hanya kegembiraan
dan kebahagiaan lahiriah, tetapi juga ketenangan dan kelapangan batin. Idul
Fitri bukan sekadar perayaan yang bersifat duniawi, melainkan momentum
peningkatan ibadah dan ketaatan kepada Allah ﷻ.
Al-Qur’an
menggambarkan suasana penuh kedamaian ini dalam Surah Al-Wāqi‘ah (56) ayat
25–26,
لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْواً وَلَا
تَأْثِيماً إِلَّا قِيلاً سَلَاماً سَلَاماً
“Mereka
tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan
yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.”
Susana
itu membuktikan bahwa Allah ﷻ menghendaki seperti dalam QS. Al-Hujurat
(49) ayat 13 berikut ini,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم
مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Suasana
Idul Fitri merupakan ekspresi kebersamaan yang seakan-akan menafikan segala
perbedaan. Yang tampak dan terasa hanyalah kesamaan dalam kebahagiaan. Antar
kelompok, antar sesama, saling bertukar maaf, saling memohon dan memberi maaf,
serta berbagi rasa suka cita dan kegembiraan.
Keadaan
inilah, yaitu suasana Idul Fitri, yang setidaknya mengajarkan kepada kita
beberapa nilai penting yang dapat kita petik sebagai bekal untuk meraih
kemajuan dan kesejahteraan bangsa, yaitu:
1. Peduli
kepada Fakir Miskin dan Kaum Lemah
Idul
Fitri menjadi momentum kepedulian sosial melalui bantuan dan santunan yang
bersumber dari zakat fitri dan zakat mal. Pada momen ini, kesadaran beragama
umat Islam meningkat. Bahkan yang biasanya berhak menerima, pada hari Idul
Fitri justru banyak yang ingin memberi, khususnya dalam menunaikan zakat
fitrah. Hal ini menunjukkan adanya semangat untuk saling mensejahterakan sesama
dalam kehidupan.
Sebab,
apa arti sebuah kebahagiaan jika di sekitar kita masih banyak saudara yang
hidup dalam penderitaan? Idul Fitri mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati adalah
ketika kebahagiaan itu dapat dirasakan bersama.
Harapan
besar dari peristiwa ini adalah meningkatnya jumlah muzakki (pemberi
zakat) dan berkurangnya jumlah mustahiq (penerima zakat), sehingga
kesejahteraan dapat semakin merata di tengah masyarakat.
Sebagaimana
firman Allah ﷻ dalam QS. At-Taubah (9) ayat 103 berikut
ini,
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ
وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ
“Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.”
2. Saling
Memaafkan
Tidak ada
seorang pun di dunia ini yang sempurna. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan
dan kekhilafan. Tradisi Idul Fitri menghadirkan proses saling memaafkan, di
mana memberi dan meminta maaf berpadu menjadi satu dalam suasana penuh
keikhlasan.
Nilai
saling memaafkan ini seharusnya tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita diajarkan untuk melupakan
kesalahan masa lalu, seakan-akan tidak pernah ada persoalan di antara kita,
sehingga yang tersisa hanyalah kegembiraan lahir dan batin serta bersihnya hati
dari dosa dan dendam.
Dalam
Islam, sikap pemaaf sangat dianjurkan. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam QS. Al-A‘raf (7) ayat 199,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ
عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah
engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah
dari pada orang-orang yang bodoh.”
Tidak ada
rasa sungkan dalam suasana Idul Fitri. Dari yang kecil, muda, remaja, hingga
tua, semua secara terbuka saling meminta dan memberi maaf. Tradisi ini
seharusnya senantiasa hidup, bukan hanya pada saat Idul Fitri, tetapi setiap
saat, setiap hari, setiap waktu. Setiap kali terjadi kesalahan, muncul
kesadaran untuk segera meminta maaf dan memberi maaf. Jika kondisi kebatinan
sudah seperti ini secara terus-menerus, bukan hanya saat Idul Fitri, itu
menjadi pertanda betapa bahagia, gembira, dan sejahteranya mereka.
3.
Tingkatkan Kesadaran Spiritual
Kita
perlu menciptakan kondisi yang berbeda pada bulan-bulan di luar Idul Fitri,
karena hal ini memicu semangat kesadaran spiritual beragama. Semangat ini tentu
merupakan dampak dari amaliyah sebelumnya, yaitu amaliyah di bulan Ramadhan.
Pada bulan tersebut, hampir tidak ada orang yang tidak pergi ke masjid, mulai
dari anak-anak hingga orang tua. Selain itu, di siang hari mereka melaksanakan
ibadah spiritual berupa puasa.
Keberlangsungan
kegiatan spiritual inilah yang harus kita jaga, karena imbasnya adalah
kesejahteraan dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah ﷻ memerintahkan dalam QS. Al-Baqarah/2 ayat
21, agar kita taat dan beribadah kepada-Nya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ وَاللّهُ
سَمِيعٌ
“Hai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa.”
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah
shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ
Selanjutnya,
dalam menutup khatbah ini, kami simpulkan sebagai berikut:
Dalam
suasana Idul Fitri, marilah kita sucikan hati dan pikiran untuk selalu mengabdi
kepada Sang Pencipta, Allah ﷻ, dengan senantiasa melaksanakan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dari banyak hal, setidaknya mari kita
tingkatkan kesadaran hidup untuk berbagi dalam konteks memajukan kesejahteraan
bangsa. Kesadaran ini harus terus menerus muncul untuk peduli kepada mereka
yang lemah, fakir, dan miskin—tidak hanya miskin secara ekonomi, tetapi juga
miskin pengetahuan, keterampilan, kesehatan, dan lain-lain. Semua ini harus
kita cerahkan dan sejahterakan, sebagaimana semangat yang muncul pada peristiwa
Idul Fitri.
Momentum
Idul Fitri ini juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran keimanan
dan ketaqwaan, melawan godaan setan, serta memperkuat persatuan dan
persaudaraan demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Selanjutnya,
mari kita berdoa kepada Allah ﷻ.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الاَحْيِاءِ مِنْهُمْ
وَالاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ فيَا قَاضِيَ
الحَاجَاتِ
اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى
الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى
الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً
بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ
يَا
اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا
وَالْمُسلِمِين
اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا كَمَا
أَلَّفْتَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ
وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ
الرَّحِيْمُ, رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا
يَصِفُونَ
وَسَلَامٌ عَلَى
الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar