Header Ads

Header ADS

Ramadan dan Keutamaan Istigfar: Rahasia di Balik Surah Nuh yang Menakjubkan

Ilustrasi konseptual gaya vektor yang membandingkan sisi kiri (kekeringan, kemiskinan, kesedihan) dan sisi kanan (kesuburan, kekayaan, kebahagiaan keluarga) yang dihubungkan oleh aliran cahaya doa menuju gerbang surga, menggambarkan tema Ramadan tentang keutamaan istigfar sesuai janji Allah dalam Al-Quran Surah Nuh.
Ilustrasi konseptual: Transformasi kehidupan dari kesulitan menuju keberkahan melalui amalan istigfar, sebagaimana dijanjikan Allah SWT dalam Surah Nuh ayat 10-12. (Sumber Gambar: AI Generated)

SUKOHARJO – Kekuatan permohonan ampun kepada Allah SWT kembali diingatkan kepada ratusan jamaah Masjid ICMA Blimbing, Sukoharjo melalui paparan tadabbur Surah Nuh dalam kajian menjelang berbuka, Jumat (13/3/2026). Ustaz Sahidun Mashudi menjelaskan bahwa istigfar adalah satu-satunya jawaban universal atas segala bentuk kesulitan hidup yang dihadapi manusia saat ini.

Menurut Ustaz Sahidun Mashudi, S.Ag., bahwa momentum Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak permohonan ampun. Beliau menekankan bahwa setiap Muslim sebaiknya memahami keutamaan istigfar agar ibadah puasa semakin sempurna.

Oleh karena itu, beliau merinci beberapa jenis bacaan yang bisa diamalkan jamaah. Mulai dari macam-macam bacaan istigfar pendek yang biasa diucapkan, hingga Sayyidul Istigfar yang merupakan tingkatan tertinggi. Selain itu, ada pula istigfar khusus untuk menjemput malam Lailatul Qadar di 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Foto dokumentasi Ustaz Sahidun Mashudi sedang menyampaikan materi pengajian di depan puluhan jamaah laki-laki yang duduk bersila di atas karpet hijau Masjid ICMA Blimbing Sukoharjo, menyemarakkan bulan Ramadan 2026.
Ustaz Sahidun Mashudi, S.Ag. saat memaparkan materi mengenai keutamaan istigfar dan tadabbur Surah Nuh ayat 10-12 di Masjid ICMA, Blimbing Sukoharjo, Jumat (13/3/2026). (Foto: Dokumentasi Panitia/Masjid ICMA)

Waktu Mustajab Melafalkan Istigfar

Selanjutnya, anggota Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Blimbing ini menjelaskan mengenai waktu-waktu yang paling mustajab. Umat Islam sangat dianjurkan untuk beristigfar setelah melaksanakan salat wajib. Namun, ada waktu-waktu istimewa lainnya yang sering terlewatkan.

"Waktu istigfar yang sangat utama adalah saat sahur, saat berbuka, meskipun sebenarnya bisa pula dilakukan setiap waktu," ujar Ustaz Sahidun dalam kajian tersebut.

Istigfar saat sahur memiliki kedudukan tinggi karena Allah memuji orang-orang yang memohon ampun pada waktu tersebut.

Selain soal waktu, Ustaz Sahidun juga mengingatkan pentingnya memperhatikan keutamaan beristigfar. Beliau mengisahkan hikmah besar di balik amalan ini melalui kisah ulama legendaris Imam Hasan Al-Basri.

Belajar dari Kisah Imam Hasan Al-Basri

Dahulu, tiga orang datang kepada Imam Hasan Al-Basri untuk mengadukan masalah yang berbeda-beda. Orang pertama mengeluhkan musim paceklik, orang kedua mengadu tentang kemiskinan, dan orang ketiga merasa sedih karena belum memiliki anak.

Uniknya, sang Imam memberikan jawaban yang identik kepada mereka semua. "Semua keluhan dan masalah yang diadukan kepada Imam Hasan Al-Basri, beliau hanya menjawab dengan: Istighfarlah engkau kepada Allah," tutur Ustaz Sahidun menceritakan kisah tersebut.

Ketegasan jawaban Imam Hasan Al-Basri ini bukan tanpa alasan yang kuat. Beliau merujuk langsung pada janji Allah dalam Al-Quran Surah Nuh ayat 10-12. Ayat tersebut menjanjikan hujan yang lebat, harta yang melimpah, hingga keturunan bagi mereka yang rajin memohon ampun.

"Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah telah mengatakan dalam firman-Nya: 'Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu'," pungkas guru MTs Muhammadiyah Imam Syuhodo tersebut menutup materinya.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.