Dampak Kufur Nikmat, Begini Proses Hancurnya Peradaban Saba Menurut Al-Qur'an
Karanganyar - Allah SWT mengubah tanah subur Negeri Saba menjadi hamparan pohon berduri setelah penduduknya berpaling dari ajaran para Rasul. Pesan mendalam mengenai dampak akibat kufur nikmat ini disampaikan Ustaz Awaludin Mufti Effendi, M.Si. dalam kajian subuh berjemaah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jumantono di Sukosari, Karanganyar, Ahad (8/3/2026).
Kepada jemaah Masjid Baiturrahim Bakdalem Ustaz Awaludin menjelaskan bahwa kemakmuran Saba bermula dari kecanggihan sistem hidrologi Bendungan Ma'rib. Air yang mengalir dari celah bukit terkumpul di lembah, lalu didistribusikan secara presisi untuk mengairi perkebunan yang sangat luas.
Lanskap hijau ini bukan sekadar pemandangan, melainkan modal ekologis jangka panjang. Kondisi ekosistem yang seimbang bahkan membuat wilayah tersebut bebas dari serangga berbahaya. Namun, stabilitas ini runtuh ketika penduduknya berpaling dari ketauhidan.
Penyebab Hancurnya Peradaban Saba
Alih-alih bersyukur, kaum Saba justru memilih menyembah matahari dan mendustai para rasul. Akibatnya, Allah SWT mendatangkan banjir besar yang menghancurkan fondasi ekonomi dan sosial mereka. Menariknya, kehancuran infrastruktur raksasa tersebut bermula dari hal kecil, yaitu ulah tikus.
"Penyebab hancurnya bendungan adalah ulah tikus. Dalam suatu periode mereka menjaga bendungannya dengan kucing-kucing liar, tetapi setelah takdir tiba tikus-tikus itu dapat mengalahkan kucing-kucing penjaga," ujar Ustaz Awaludin di hadapan jemaah.
Tikus-tikus tersebut melubangi dinding bendungan hingga strukturnya menjadi labil. Saat musim penghujan tiba, banjir kiriman menghantam hingga bendungan roboh seketika. Air bah menyapu bersih pemukiman dan memporak-porandakan seluruh vegetasi yang ada.
Dampak Ekologis Akibat Kufur Nikmat
Pasca-banjir, sistem pengairan tidak lagi berfungsi sehingga pepohonan yang rimbun mulai mengering. Wilayah yang semula subur berganti menjadi lahan gersang yang hanya ditumbuhi pohon berduri seperti arok, tarfa, dan sidr.
Kisah sejarah kaum Saba yang diterangkan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Adhim ini menjadi pengingat keras bagi manusia modern mengenai pentingnya menjaga amanah alam. Keberlimpahan materi tanpa disertai ketaatan spiritual sering kali melahirkan kerentanan ekologis yang berujung pada bencana besar.
"Kenikmatan ekologis dan kemakmuran yang dianugerahkan Allah SWT kepada peradaban Saba’ tidak disertai dengan ketauhidan. Keberlimpahan yang semestinya dijaga sebagai amanah justru diabaikan, sehingga melahirkan kehancuran," tegas pengasuh PPTQ Shiratun Najah tersebut menutup materinya.

Tidak ada komentar