Header Ads

Header ADS

Bukan Sekadar Kosong-Kosong, Ini Syarat Mutlak Raih Kemenangan Idulfitri

Ilustrasi konseptual split-screen bertema Idulfitri: di sisi kiri, siluet oranye seorang pria berdoa di depan masjid; di sisi kanan, tangan menulis di "Debt Ledger" (Buku Besar Utang) dengan koin dan kalkulator.
Sebuah ilustrasi metaforis yang menggambarkan keseimbangan antara pemenuhan hak Tuhan dan hak sesama manusia (utang) sebagai syarat kemenangan Idulfitri, seperti yang ditekankan dalam tausiyah Ustadz Ahmad Nasri. (Sumber Gambar AI)

Jatisobo – Kemenangan Idulfitri 1447 H tidak akan sempurna bagi mereka yang mengabaikan kewajiban membayar utang harta dan menunda-nunda membayar utang puasa Ramadan. Hal ini ditegaskan Ustadz Ahmad Nasri dalam forum silaturahmi akbar keluarga Eyang Imam Rofi'i yang dihadiri perwakilan lima garis keturunan di Jatisobo, Polokarto, Sukoharjo pada Rabu (25/3/2026) pagi.

Pernyataan tegas ini disampaikan di hadapan ratusan anggota keluarga besar Trah Eyang Imam Rofi'i. Dia mengingatkan bahwa tradisi saling memaafkan atau "kosong-kosong" saat Idulfitri 2026 tidak serta-merta menghapus kewajiban yang bersifat materiil maupun utang ibadah.

"Meskipun di hari ini sering disebut kosong-kosong, jangan lupa yang punya utang puasa tetap wajib dibayar, yang punya utang harta juga wajib dibayar. Tidak otomatis lunas," ujar Nasri dengan nada persuasif.

Bahaya Menunda Niat Melunasi Utang

Nasri kemudian mempertegas materinya dengan merujuk pada hadis riwayat Ibnu Majah. Dia menjelaskan konsekuensi berat bagi seseorang yang sengaja melalaikan kewajiban finansialnya kepada sesama manusia hingga ajal menjemput.

"Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah dalam status sebagai pencuri," tegasnya saat menyampaikan tausiyah di kediaman Bapak Duhri, Jatisobo.

Dia juga mengutip nasihat sahabat Salman Al-Farisi kepada Abu Darda mengenai keseimbangan hidup. Menurutnya, memenuhi hak Tuhan (ibadah), hak diri sendiri, dan hak sesama (termasuk utang) adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Mengingat ayat terpanjang dalam Al-Quran (Al-Baqarah: 282) justru membahas tentang urgensi mencatat dan menyelesaikan urusan utang-piutang secara jujur agar niat melunasi utang tetap terjaga.

Meneladani Jejak Spiritual Eyang Imam Rofi'i

Di sisi lain, pertemuan ini juga menjadi ajang napak tilas nilai-nilai kebaikan yang diwariskan oleh leluhur. Ketua Panitia Halal bi Halal, H. Anang Abdul Hamid, mengingatkan bahwa Eyang Imam Rofi'i dulunya adalah seorang imam masjid yang dikenal sebagai orang saleh.

"Sebagai anak cucu keturunan Eyang Imam Rofi'i, kita wajib meneruskan amalan beliau, di antaranya dengan rajin membaca dan mengamalkan isi Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari," ungkap H. Anang.

Sebagai bentuk apresiasi nyata terhadap pelestarian tradisi mengaji tersebut, ketua panitia membagikan doorprize uang tunai total jutaan rupiah bagi para anggota keluarga yang berhasil khatam Al-Quran selama bulan Ramadan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga semangat spiritualitas keluarga besar tetap menyala lintas generasi.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.