Header Ads

Header ADS

Pesan Khutbah Jumat: Hati-hati Jadi Golongan Manusia yang Lalai Setelah Ramadhan

Ilustrasi editorial yang menggambarkan siluet seorang pria berjalan di jalan setapak yang bercahaya keemasan di padang pasir yang gelap. Jalan itu melengkung menuju bulan sabit besar yang bersinar dan siluet kompleks masjid di cakrawala di bawah langit malam berbintang. Melambangkan perjalanan istiqamah pasca-Ramadhan.
Perjalanan Berlanjut: Ilustrasi metaforis yang menangkap pesan Ust. Muhammad Farhan Al Yuflih tentang pentingnya menjaga istiqamah pasca-Ramadhan untuk tidak menjadi 'Hamba Ramadhan', melainkan 'Hamba Rabbani' yang terus berjalan di atas cahaya ketaatan. [Sumber: Ilustrasi AI]

Klaten – Sebagai lulusan terbaik Rumah Qur'an STIFIn yang menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu 5 bulan, Ust. Muhammad Farhan Al Yuflih mengingatkan jamaah untuk mewaspadai perubahan karakter negatif yang menjadi ciri golongan manusia setelah Ramadhan yang gagal. Pesan ini disampaikan dalam khutbah Jumat pasca-lebaran di masjid Birul Walidaini, Maliman, Keden, Pedan, pada Jumat (27/3/2026).

Dalam khutbahnya, Ust. Farhan memaparkan bahwa evaluasi pasca-bulan suci adalah cermin nyata untuk melihat sejauh mana keberhasilan pendidikan Ramadhan dalam diri seorang muslim. Klasifikasi ini bertujuan agar jamaah mampu melakukan muhasabah dan menentukan langkah perbaikan ketaatan ke depan.

Tiga Golongan Pasca-Ramadhan

Beliau menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga kelompok manusia dalam menyikapi berlalunya bulan puasa. Kelompok pertama adalah mereka yang grafiknya terus meningkat, menjadikan Ramadhan sebagai batu loncatan untuk ibadah yang lebih hebat.

"Golongan pertama adalah orang yang keadaannya setelah Ramadhan jauh lebih baik dari sebelum Ramadhan," ujar Muhammad Farhan Al Yuflih di atas mimbar.

Golongan kedua adalah mereka yang stagnan atau hanya sekadar menjaga apa yang sudah ada tanpa adanya peningkatan kualitas yang berarti. Sementara itu, golongan ketiga yang paling dikhawatirkan adalah mereka yang justru kembali jatuh ke dalam kelalaian dan maksiat segera setelah Ramadhan berakhir.

Pentingnya Istiqamah Pasca-Puasa

Menghadapi tantangan istiqamah pasca-puasa, khatib menekankan bahwa seorang mukmin harus memiliki rasa risih terhadap dosa. Jika seseorang kembali merasa nyaman dengan kemaksiatan tak lama setelah Idul Fitri, hal tersebut menjadi sinyal bahaya bagi kualitas imannya.

"Tanda diterimanya amal shalih adalah lahirnya ketaatan-ketaatan baru setelahnya," tambah Muhammad Farhan.

Evaluasi ibadah Jumat ini juga menyoroti bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi mereka yang merasa masuk dalam golongan ketiga. Selama nafas masih ada, setiap hamba memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan istiqamah sebelum ajal menjemput.

Khatib menutup dengan ajakan agar jamaah tidak menjadi "Hamba Ramadhan" yang taat secara musiman. Sebaliknya, umat Islam didorong untuk menjadi "Hamba Rabbani" yang senantiasa menjaga kedekatan dengan Allah di bulan-bulan lainnya sepanjang tahtah [Kontributor: Abu Fatihah]

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.