Header Ads

Header ADS

Mengapa Kita Dilarang Merasa Paling Suci Setelah Ramadhan?


PEDAN – Dalam  rangkaian Tausiyah Dr. Agus Sukarno, filosofi "Laburan" menjadi pengingat keras bagi peserta halal bihalal di Islamic Center Muhammadiyah (ICM) Pedan bahwa kerendahan hati adalah puncak dari Filosofi Lebaran 4-L. Pesan ini disampaikan dalam acara Halalbihalal guru dan karyawan Muhammadiyah-’Aisyiyah se-Kecamatan Pedan, Klaten, Rabu (1/4/2026).

Dr. H. Agus Sukarno, M.Si. menjelaskan bahwa istilah "Laburan" berasal dari kata labur atau kapur putih. Dalam konteks spiritual pasca-Ramadhan, hal ini melambangkan kembalinya manusia kepada kesucian. Namun, beliau memperingatkan agar kesucian tersebut tidak membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain.

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa," tegas Dr. Agus Sukarno mengutip Surah An-Najm ayat 32 di hadapan ratusan pendidik.

Tahapan Spiritual Lebaran hingga Leburan
Sebelum mencapai tahap Laburan, beliau membedah tiga tahapan sebelumnya. Pertama adalah Lebaran, yang dimaknai sebagai momentum peningkatan kualitas ibadah yang harus difokuskan hanya karena Allah SWT (ikhlas). Kedua adalah Luberan, yaitu semangat berbagi kebahagiaan kepada sesama sebagai bukti kesempurnaan iman.

Ketiga adalah Leburan, sebuah fase di mana setiap individu harus berani mengakui kesalahan (ngaku lepat) dan saling memaafkan. Menurut beliau, tanpa proses peleburan dosa antarmanusia, kesucian lahiriah tidak akan bermakna apa-apa.

Implementasi di Lingkungan Sekolah
Tausiyah Dr. Agus Sukarno ini menjadi dasar bagi para guru untuk menjaga integritas dan kerendahan hati dalam mendidik. Melalui Halal bihalal guru Muhammadiyah Pedan ini, diharapkan seluruh warga sekolah Muhammadiyah dapat menerapkan makna Lebaran Luberan Leburan Laburan dalam interaksi sehari-hari.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PCM dan PCA) Pedan ini ditutup dengan harapan agar para pendidik tetap istiqamah dalam menuntut ilmu dan mengajar, karena setiap pendengaran, penglihatan, dan hati nurani akan dimintai pertanggungjawabannya. [Kontributor: Muhammad Farhan Al Yuflih]

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.