Kultum Ramadhan: Iman kepada Para Rasul-Nya
Kultum
Ramadhan: Iman kepada Para Rasul-Nya
Dr. Ir. H.
Abu Zakariya Surtisno, S.T, M.Sc, Ph.D
Anggota
Majelis Tabligh PDM Kab. Sukoharjo, Wakil Ketua PCM Kec. Sukoharjo
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ
اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ،
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ
بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا
Kaum Muslimin
Hafizhakumullah,
Iman kepada para
rasul merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim.
Keyakinan ini menjadi bagian penting dari keutuhan akidah Islam, karena melalui
para rasul, Allah ﷻ menurunkan wahyu dan petunjuk
hidup bagi umat manusia. Rasul-rasul Allah adalah teladan utama dalam keimanan,
keteguhan, dan ketaatan kepada perintah-Nya. Dengan memahami dan mengimani para
rasul, seorang muslim akan semakin mengenal keagungan Allah, kemurnian risalah
Islam, serta urgensi meneladani Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul terakhir dan penutup para nabi.
Mengimani para rasul
berarti meyakini bahwa mereka adalah manusia pilihan yang diberi wahyu berupa
syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat manusia. Rasul yang
pertama adalah Nabi Nuh, sedangkan yang terakhir adalah Nabi Muhammad ﷺ. Dalam QS. An-Nisa [4] ayat 163, Allah ﷻ berfirman,
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا
أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ
وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
"Sesungguhnya Kami telah
memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh
dan nabi-nabi yang datang sesudahnya. Kami telah memberikan wahyu pula kepada
Ibrahim, Isma‘il, Ishaq, Ya‘qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan
Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud."
Kultum Ramadhan: Mujahadah di Sepuluh Akhir
Kaum Muslimin
Hafizhakumullah,
Iman kepada para
rasul mencakup empat hal:
a. Meyakini
bahwa risalah mereka benar-benar berasal dari Allah ﷻ.
b. Mengimani
nama-nama para rasul yang diketahui, seperti Muhammad, Nuh, Ibrahim, dan
lainnya. Adapun rasul yang tidak diketahui namanya, kita imani secara umum.
c. Membenarkan
berita-berita yang benar dari mereka.
d. Mengamalkan
syariat rasul yang diutus kepada kita, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, rasul terakhir yang diutus
untuk seluruh manusia. Dalam QS.
An-Nisa [4] ayat 65, Allah ﷻ berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ
حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي
أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Maka demi Tuhanmu, mereka
(pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad)
sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya."
Kaum Muslimin
Hafizhakumullah,
Adab terhadap
Rasul-Nya
Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rasul terakhir
dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah ﷻ mengutus beliau untuk mengajarkan petunjuk kepada manusia agar meraih
kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah ﷻ juga mewajibkan manusia untuk mencintai dan menaati beliau. Maka sudah
selayaknya kita beradab kepada beliau ﷺ.
Allah ﷻ juga mengajarkan beberapa adab terhadap Rasul sebagaimana terdapat dalam
surah Al-Hujurat ayat 1–4. Di antara bentuk adab terhadap beliau adalah
sebagai berikut:
a) Mentaati
perintahnya.
Dalam QS.
Muhammad [47] ayat 33, Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
“Hai orang-orang
yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kamu merusakkan
(pahala) amal-amalmu.”
b) Mencintainya.
Dalam hadis
Riwayat Imam Al-Bukhari, no. 15, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman
salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintainya daripada anaknya,
orang tuanya, dan manusia seluruhnya.”
c) Loyal
terhadap beliau dan terhadap orang-orang yang mengikuti ajarannya, serta
berlepas diri dari orang-orang yang memusuhinya atau memusuhi ajarannya.
d) Mengagungkan
beliau dengan pengagungan yang semestinya, serta bershalawat ketika nama beliau
disebut.
e) Membenarkan
berita yang beliau sampaikan.
f)
Menghidupkan sunnahnya dalam seluruh sendi
kehidupan.
Kaum Muslimin
Hafizhakumullah,
Dengan demikian, keimanan kepada para
rasul tidak hanya berhenti pada pengakuan secara lisan, tetapi harus diwujudkan
dalam ketaatan, kecintaan, dan pengamalan terhadap ajaran yang mereka bawa.
Rasulullah ﷺ adalah suri teladan terbaik bagi umat
manusia, dan beradab kepada beliau merupakan wujud nyata dari keimanan yang
benar. Melalui pemahaman, penghormatan, dan pengamalan sunnah beliau, seorang
muslim akan mampu menapaki jalan yang diridhai Allah ﷻ menuju keselamatan dunia dan akhirat.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
.jpg)
Tidak ada komentar