Ustadz Nur Fajri Romadhon: Wajah Baru Penerus Estafet Dakwah Buya Yunahar Ilyas?
Sejak berpulangnya Allahuyarham Buya Yunahar Ilyas, ada semacam ruang kosong yang sulit sekali terisi di tubuh Muhammadiyah. Dulu, kalau ada diskusi soal agama di TV nasional, beliau selalu jadi andalan. Dan memang nggak salah pilih.
Buya Yunahar itu, menurut saya, prototipe sempurna seorang ulama-mubaligh. Soal kealiman, jelas tak perlu didebat. Tapi yang bikin beliau spesial adalah cara penyampaiannya: jelas, runut, dan sangat tenang. Nggak bertele-tele. Setiap kali tampil sebagai narasumber yang mengatasnamakan Muhammadiyah, beliau selalu sukses bikin persyarikatan ini kelihatan ciamik.
Misalnya pas di Indonesia Lawyers Club bahas poligami, atau diskusi besar lainnya soal hisab. Keren, tegas, dan argumentasinya kuat.
Nah, setelah beliau pergi, rasanya ada kekosongan. Bukan berarti nggak ada ulama atau ahli agama di Muhammadiyah. Banyak kok. Tapi yang punya kemampuan buat ngomong di depan audiens luas, yang berani tampil di TV nasional dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna publik—nah, itu yang sepertinya belum tergantikan.
Sebab, kita harus akui, bicara di depan kamera itu tekanannya tinggi banget. Apalagi cakupannya nasional, wah, itu susahnya minta ampun. Banyak orang pintar, tapi pas disorot lensa dan ditonton jutaan pasang mata, bisa mendadak kaku, grogi, atau malah penjelasannya jadi ruwet. Nah, Buya Yunahar itu sudah lulus ujian berat itu.
Sempat berharap banyak sama Ustaz Adi Hidayat. Beliau memang mubaligh nasional, ceramahnya juga runut dan enak didengar. Tapi ya… ada beberapa pandangan yang rasanya nggak terlalu sejalan dengan Muhammadiyah.
Misalnya soal awal bulan. Muhammadiyah sudah jelas pakai hisab dan bahkan spesifik menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal, sementara sikap UAH kelihatannya agak berbeda.
Sampai akhirnya, belakangan ini muncul sosok Syaikh Nur Fajri Romadhon. Menurut saya, Syaikh Nur Fajri punya semua modal untuk jadi wajah baru Muhammadiyah di ranah isu keagamaan nasional, bahkan internasional. Beliau alim, menguasai turats, seorang polyglot, bicaranya lugas, dan yang paling menonjol adalah akhlaknya yang, Masya Allah, sangat mulia.
Momen pembuktiannya yang paling berkesan adalah saat beliau hadir di channel Deddy Corbuzier (bersama Habib Ja’far). Di sana, beliau “dibombardir” dengan pertanyaan-pertanyaan sensitif yang sering jadi bahan perdebatan. Mulai dari tahlilan, ziarah kubur, ngalap berkah, kunut, sampai soal perhabiban.
Kalau saya yang hadir di sana, kemungkinan cuma mangap-mangap doang diserbu pertanyaan-pertanyaan random dari Tretan Muslim sama Mamat Alkatiri. Dan kita tahu sendiri, pertanyaan mereka tuh bisa sangat liar. Nggak terduga, kadang nyeleneh. Kalau nggak punya modal pengetahuan yang kokoh dan artikulasi yang bagus, jawaban kita bisa belepotan, salah ucap, atau malah jadi blunder yang bikin malu.
Tapi Syaikh Nur Fajri? Beliau kalem aja. Hebatnya, saat membahas isu-isu sensitif tersebut, beliau mampu menyampaikan posisi Muhammadiyah dengan sangat elegan. Nggak ada nada menyalahkan, nggak ada gesture meremehkan. Terlihat sekali beliau tidak ingin perbedaan pendapat justru dipaksa menjadi arena pertengkaran.
Hebatnya lagi, beliau tidak menjawab dengan “menurut saya” atau sekadar opini pribadi yang liar. Semua dijawab dengan merujuk pada fatwa-fatwa Tarjih Muhammadiyah. Keren banget. Nggak asal ngomong, tapi ada rujukannya. Itu menunjukkan kalau beliau bukan cuma paham agama, tapi juga paham posisi dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari persyarikatan.
Jadi, kalau ditanya siapa penerus Buya Yunahar di layar kaca nasional, saya pribadi bakal tunjuk Syaikh Nur Fajri. Sosok yang alim dan berpegang teguh pada manhaj tarjih. [Ilham Ibrahim]

Tidak ada komentar