Waspada Kiamat Peradaban: Saat Penguasa, Teknokrat, dan Oligarki Bersekutu
SUKOHARJO – Persekutuan antara penguasa yang otoriter, teknokrat amoral, dan kekuatan oligarki menjadi ancaman serius yang memicu Kiamat Peradaban bagi sebuah bangsa. Hal tersebut ditegaskan oleh Ustaz Awaludin Mufti Effendi, M.Si., dalam Kajian Subuh Ramadan di Masjid Baiturrahmah PAY Muhammadiyah Blimbing, Sukoharjo, Sabtu (14/3/2026).
Dalam kajian tersebut, Ustaz Awaludin menjelaskan bahwa hancurnya sebuah tatanan bangsa bukan hanya karena faktor tunggal. Sebaliknya, ia menyebut fenomena ini sebagai "The Pentarchy of Fasad" atau lima pilar kerusakan yang saling berkelindan.
Kolaborasi Fir’aun, Haman, dan Qarun menjadi representasi nyata bagaimana kekuatan politik, teknologi, dan modal bersatu. Persekutuan ini, menurut Ustaz Awaludin, merupakan formula pasti menuju Kiamat Peradaban.
"Fir’aun itu sombong, angkuh, sewenang-wenang, merasa besar-hebat (grandiositas pervasif) dan melampaui batas," ujar Ustaz Awaludin saat memaparkan materi di depan jamaah Masjid Baiturrahmah PAY, Sukoharjo.
Ciri Penguasa Otoriter dan Taktik Adu Domba
Ustaz Awaludin membedah strategi penguasa zalim dalam mempertahankan takhtanya. Salah satu ciri penguasa otoriter adalah kecenderungan memecah belah masyarakat melalui polarisasi kelas.
Hal ini bertujuan agar masyarakat terus berselisih sehingga mereka kehilangan daya kritis. "Pecah belah masyarakat (kasta, kelompok, polarisasi) agar ikuti dan taatinya sesuai keinginan tanpa perlawanan," tegas Pengasuh Ma'had Shiratun Najah tersebut.
Selain itu, penguasa model ini sering melakukan marginalisasi terhadap kelompok tertentu. Mereka menciptakan kecemburuan sosial sekaligus mengeksploitasi kaum rentan demi kepentingan kekuasaan semata.
Bahaya Oligarki dalam Islam dan Teknokrat Amoral
Kerusakan semakin parah ketika penguasa didukung oleh teknokrat amoral seperti Haman. Dalam tarikh, Haman berperan sebagai pelaksana proyek yang tidak peduli pada nilai moral asalkan target sistem terpenuhi.
Namun, elemen yang paling menentukan adalah kehadiran Qarun sebagai simbol kekuatan finansial. Ustaz Awaludin menekankan bahaya oligarki dalam Islam melalui karakter Qarun yang merasa hartanya adalah hasil murni dari kehebatan ilmunya sendiri.
"Qarun bin Yashar melanggar batasnya dalam kesombongan dan kesewenang-wenangan kepada masyarakat. Ia merasa diberikan perbendaharaan ini karena keutamaan ilmunya," ungkapnya.
Perpaduan ketiga kekuatan ini kemudian menyandera dua pilar lain, yakni kaum intelektual 'ulama seperti Bal'am bin Ba'ura dan melemahkan mentalitas masyarakat (Bani Israil).
Sebagai penutup, Ustaz Awaludin mengingatkan jamaah agar tidak mudah terperdaya oleh ilmu tanpa integritas serta menjauhi segala bentuk suap yang dapat membatalkan kebenaran.

Tidak ada komentar